Gus Rozin: Santri Harus Mandiri Secara Ekonomi maupun Politik

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Rabitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) yang merupakan asosiasi pondok pesantren se-Indonesia, sebagai upaya preventif terhadap gerakan kelompok keagamaan ekstrimis. KH. Abdul Ghofarrozin, yang akrab disapa Gus Rozin, Ketua Umum PP RMI NU menyampaikan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan sistem dan dasar ideologi Indonesia. Menurutnya, Pancasila dan perbedaan di Indonesia adalah realitas yang harus kita jadikan sebagai pelatuk kesatuan nasional.

“Ulama dan santri sejak zaman dulu menjadi motor penggerak kesatuan nasional dan merawat perbedaan. Pagelaran Apel Akbar Santri Nusantara, ditujukan untuk meneguhkan kembali bahwa Indonesia sebagai nation-state dengan Pancasila sebagai ideologi adalah final, tidak berbenturan dengan nilai-nilai agama,” tuturnya, dalam press conference jelang apel akbar Santri Nusantara di Riyadi Palace Hotel Solo, Minggu(9/9/2018).

Gus Rozin juga mengatakan, ia ingin mengampanyekan santri itu cinta damai, berperan besar, satu mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui resolusi jihad tanggal 22 Oktober.

“Santri mempunyai peran aktif dalam mempertahankan NKRI, ikut mengisi kemerdekaan dan ikut mempertahankan keutuhan NKRI.

Kita ingin teguhkan itu di kota Solo sebagai kota yang terkenal kota multikultural. Kita bicara soal Solo Raya, di Solo Raya ada sekitar hampir 600 pesantren NU, tetapi memang tidak banyak yang berada di kota, banyak di pinggir-pinggir seperti di Wonogiri, Klaten, Sragen dan lain-lainnya. Ini potensi yang luar biasa untuk kita satukan dalam forum yang besar juga sebagai wadah konsolidasi untuk pengembangan terutama pengembangan ekonomi,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, mengapa  memilih tema Santri Mandiri?

“Kami berpikiran santri itu harus mandiri secara tradisi, tradisi keilmuwan pesantren. Tradisi keilmuwan santri yang sudah ada berabad-abad itu harus kita rawat sedemian rupa sehingga tetap independen. Karena basis moral ini salah satunya adalah pendidikan pesantren,” ucapnya.

Yang kedua, lanjut Gus Rozin, mandiri secara politik, melalui forum semacam ini bisa menumbuhkan bahwa santri itu harus mandiri secara politik, sehingga tidak gampang menjadi subyek politik atau obyek politik sejak lima tahun. Untuk mencapai dua hal itu mandiri politik dan mandiri tradisi melalui satu hal yaitu mandiri secara ekonomi. (Aryadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *