Melati Suryodarmo sebagai Maskot SIPA 2018

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Maha karya seni pertunjukan yang diselenggarakan di kota Solo, Solo Internasional Performing ( SIPA) pada tahun ini akan digelar pada 6 sampai 8 September 2018 dengan tema  “WE ARE THE WORLD – WE ARE THE NATION”. Acaranya senidri menurut rencana akan digelar diberebagi venue di kota Solo, seperti di benteng Vesteberg dan beberapa kafe yang ada di kota Solo.

Setiap perhelatan SIPA selalu memunculkan maskot, tahun ini SIPA mendaulat Melati Suryodarmo sebagai maskot SIPA 2018.

Melati Suryadarmo seorang performer bertaraf internasional. Dia sejak kecil sudah mengenal kesenian, karena lahir dari keluarga seniman, anak dari Suprapto Suryodarmo dan Siti Nuryantinah dari cucu Margono yang banyak berkecimpung di bidang karawitan.

Sebelum terjun ke dunia seni, Melati Suryodarmo Kuliah di Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjadjajaran Bandung, pada tahun 1994 Melati memulai pendidikan senirupa dan performance di Hochschule fuer Bildende Kuenste Braunschweig Jerman dan menyelesaikan pasca sarjanya pada tahun 2003. Karya-karya Melati Suryodarmo banyak mengangkat tema-tema manusia dalam kehidupan politik  dan sosial, berkaitan dengan kejiwaan manusia dan filsafat kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Bentuk-bentuk karyanya lebih banyak  merupakan karya “performance art”, atau senirupa pertunjukan. Karya-karya performance art yang diciptakan sebagian besar berdurasi panjang dan banyak ditampilkan di museum-museum atau galeri-galeri di berbagai negara.

Menurut Melati, tubuh manusia adalah salah satu sumber penting bagi inspirasi karya-karyanya. Melati memandang bahwa tubuh manusia tidak hanya dari segi fisiknya namun tubuh adalah muatan memori yang terus tumbuh. Tubuh memiliki resistensi terhadap lingkungan dimana dia hidup. Sistem yang bergerak dalam tubuh psikologis manusia, mendorongnya untuk terus mencari dan menemukan struktur tingkah laku dan pemikiran baru tentang manusia dan kemanusiaannya.

“Tubuh tidak akan lepas dari tautan sejarah yang melekat pada kehidupan manusia. Dia tiak hanya sekedar badan yang memiliki fungsi, namun dia merupakan konstelasi segala percampuran dan perubahan peradaban manusia,” jelasnya (aryadi)

 

BACA JUGA:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *