Mafindo Yogyakarta-SMA PIRI 1 Yogyakarta: “Saya Antihoaks”

Spread the love

YOGYAKARTA (poskita.co) – Wajah-wajah para siswa terlihat ceria.  Inilah remaja zaman now yang turut andil dan melibatkan diri bermedia sosial secara positif. Mereka memegang berbagai tulisan: Saya Antihoaks, Turn Back Hoax, Siskamling Digital.

“Para siswa terlihat puas dan senang atas lokakarya literasi digital. Mereka jadi paham tentang berbagai hal seperti:  medsos, media daring, kaidah jurnalisme,  etika berinternet-bermedsos, dan hoaks dan verifikasi informasi,” kata Valentina Sri Wijiyati, Komite Litbang Mafindo, Koordinator Mafindo Yogyakarta, saat ditanya kesan-kesannya kepada Poskita.co, Sabtu (7/4/2018).

Kegiatan lokakarya Literasi Digital: Hoaks dan Etika Bermedia Sosial ini patut diacungi jempol. Sebab, bagaimanapun juga, hoaks sudah menyebar begitu pesat dan dahsyat menyasar anak-anak sekolah.

Materi yang disampaikan untuk menjangkau generasi digital native di tahun pemilu dibuat menarik dan fun oleh Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), digelar di Aula SMA PIRI 1 Yogyakarta.

Para siswa pun antusias, terlihat berbagai pertanyaan muncul dari para siswa. Misalnya, ada yang bertanya, “Kalau di medsos misal FB ada komentar tentang Indonesia punya utang banyak, bagaimana mengecek kebenarannya?”

Tentunya, siswa harus melakukan verifikasi data ke sumber-sumber kredibel. Ada juga pertanyaan, “Bagaimana menyikapi jurnalis yang berpihak kepada pihak tertentu?”.

Bila itu yang terjadi, maka lakukan cek silang ke sumber lain, jangan mengandalkan satu sumber! Media berpihak kepada virtue, kepada kepentingan publik, bukan kepada kekuasaan-penguasa. Media melindungi nara sumber. Pada kesempatan itu, ditekankan juga perlunya membedakan portal warta dan portal opini. Adapun contoh portal konten positif  seperti Good News From Indonesia.

“Kemitraan dengan SMA PIRI 1 Yogyakarta juga menjadi perwujudan komitmen Mafindo untuk bersinergi dengan semua pihak secara inklusi dan imparsial. Mafindo Yogyakarta sudah menjabarkan posisi itu melalui kerja sama dengan pesantren dan lembaga berbasis agama lainnya, universitas (UAJY, UIN Suka), serta komunitas relawan lain,” tambah Valentina Wiji.

Lokakarya ini diselenggarakan dengan nilai kelestarian-berkelanjutan (karenanya kelas merupakan kawasan tanpa rokok dan disertai upaya mengurangi sampah), voluntarisme/kesukarelaan (fasilitator dan penyelenggara kelas serta para pihak terlibat secara probono, partisipan tidak dipungut biaya), keswadayaan, partisipatif, dan perlindungan data.

Tim fasilitator Mafindo Yogyakarta dikoordinasikan Ratna Widiyati (Koordinator Komite Edukasi Literasi Mafindo Yogyakarta) terdiri dari Tri Mulyani (Deputi Koordinator Mafindo Yogyakarta, Komite Pemuda Pelajar Mafindo), Ade Intan Christian (Sekretaris Mafindo Yogyakarta), dan Valentina Sri Wijiyati (Komite Litbang Mafindo, Koordinator Mafindo Yogyakarta). Tim fasilitator ini akan mendampingi para siswa mengupas tiga tema: media daring (online) dan kaidah penulisan jurnalistik, etika bermedia sosial (berinternet sehat), serta hoaks dan Hoax Buster Tools.

“Penyebaran hoaks yang massif menjadi masalah serius, juga mengingat rendahnya literasi digital di Indonesia. Hoaks bisa memapar siapa saja termasuk salah satunya pelajar. Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 mengungkapkan bahwa pelajar dengan rentang umur 13-18 tahun adalah pengguna aktif internet,” ujar Ratna Widiyati.

Ditambahkan Ratna, data APJII tersebut menunjukan bahwa penggunaan internet di kalangan pelajar cukup tinggi, dan ini membuat mereka rentan terpapar hoaks. Menyikapi situasi itu, Mafindo berusaha berkontribusi dalam literasi digital dan sosialisasi mengenai internet sehat. Salah satu lembaga yang memiliki nota kesepahaman untuk kerja literasi digital ini adalah SMA PIRI 1 Yogyakarta. Dengan dasar nota kesepahaman itu lokakarya ini diselenggarakan.

Salah satu guru SMA Piri, Anis Farikhatin, menyatakan kehidupan beragama jadi gaduh gara-gara berita hoaks.

“Saat ini hal-hal yang menyangkut kehidupan beragama mudah ‘digoreng’ menjadi isu panas yang membuat gaduh. Kami berharap lokakarya ini bisa membantu siswa SMA PIRI 1 Yogyakarta cerdas dan sehat dalam bermedia sosial, memiliki kesadaran tentang pengaruh media dalam kehidupan sosial, juga mampu bersikap kritis serta siap beraksi bersama melawan ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan diskriminasi, permusuhan, dan konflik. Terlebih di tahun pemilu yang ditengarai penuh intrik,” ujar Anis Farikhatin, guru SMA PIRI 1 Yogyakarta.

Perlu diketahui, Mafindo didirikan sebagai  komunitas volunteer pada November 2016 dan saat ini Mafindo sudah hadir di 18 kota Indonesia. Dengan lebih dari 200 orang relawan aktif yang majemuk, Mafindo mengembangkan aplikasi Hoax Buster Tools (HBT) yang sudah tersedia di Google Play Store, bekerja bersama Facebook dan Google, serta menginisiasi jejaring Asia Pacific Factchecker Network sebagai upaya untuk melakukan cek fakta antar negara (cross border debunking).

Pada 16 Maret 2018, Mafindo diundang Parlemen Singapura menyumbang gagasan untuk kerja melawan hoaks di Singapura. Dan pada minggu pertama April 2018 bersama kompas.com serta tirto.id, Mafindo diundang dalam lokakarya news literacy yang dihelat Facebook di Sydney, Australia. (Cosmas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *