Sistem Zonasi PPDB Online Demi Pemerataan Pendidikan

Spread the love

SOLO (poskita.co) –  Akan diberlakukannya sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online tahun ini, ditegaskan kalangan DPRD kota Surakarta sebagai upaya dalam pemerataan pendidikan. Nantinya tidak ada lagi istilah sekolah favorit dan non favorit.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Surakarta, Paulus Haryoto merasa optimis dengan adanya sistem zonasi dalam PPDB online pemerataan pendidikan akan tercapai.

“Selama ini istilah sekolah favorit atau tidak, yang memberi label adalah masyarakat. Yang terjadi input atau siswa yang masuk memang kemampuannya di atas rata-rata, sehingga out put-nya juga baik,” katanya di gedung dewan setempat, Kamis (5/4).

Dengan diterapkannya system zonasi yang berlaku secara nasional, yang mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada sekolah sekolah TK, SD, SMP, SMA, SMK, diharapkan pemerataan pendidikan akan tercapai. Apalagi, menurut politisi dari PDI Perjuangan ini, Pemkot Surakarta juga telah berupaya membuat kebijakan dengan melakukan rolling guru-guru agar tidak terlalu lama mengajar di sekolah tertentu, khususnya sekolah favorit. Walau pun Paulus mengakui pada awal pelaksanaan diterapkannya system zonasi PPDB online, bisa jadi akan timbul permasalahan di lapangan dengan adanya sistem yang baru ini.

Hal berbeda diungkapkan anggota Komisi IV DPRD Kota Surakarta Reni Widyawati, yang justru mengkawatirkan penerapan sistem zonasi PPDB online jika tidak diimbangi dengan persiapan yang matang, maka tujuan pemerataan kualitas pendidikan tidak akan tercapai dengan maksimal.

“Pemerintah Kota Surakarta harus mempersiapkan seluruh komponen sekolah secara baik terkait dengan akan diterapkannya system zonasi PPDB online yang dimulai pada tahun ini,” ujar Reni.

Persiapan yang baik itu tidak hanya menyangkut SDM pendidik, tapi juga sarana prasarana sekolah serta lingkungan yang mendukung. Menurut anggota dewan dari Partai Demokrat ini,

dianggap baik. Sebaliknya, dari sisi kecerdasan siswa tidak terlalu menonjol, namun diterima di sekolah yang dikenal favorit. Hal ini akan menjadi kekawatiran siswa misalnya kurang dapat mengikuti pelajaran di sekolah tersebut. Begitu juga soal tenaga pendidik yang harus bekerja keras untuk hal ini,” kata Reni. (endang paryanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *