Memanfaatkan Artefak Eks Pabrik Gula, De Tjolomadoe Siap Dibuka untuk Umum

Spread the love

KARANGANYAR (poskita.co) –  Bekas pabrik gula Colomadu yang berdiri tahun 1816,  di kabupaten Karanganyar, keberadaannya tidak lagi mangkrak pasca berhenti beroperasinya pabrik yang didirikan oleh Mangkunegaran ke IV itu. Pemerintah, dalam hal ini Kementrian BUMN telah merevitalisasi eks pabrik gula Colomadu menjadi suatu kawasan heritage yang sekaligus berfungsi sebagai ruang publik, tanpa harus mengurangi atau mengubah bentuk dan struktur bangunan yang ada.

 

Saat ini revitalisasi eks pabrik gula Colomadu yang kemudian diberi nama De Tjolomadoe, telah selesai dilakukan dan rencananya pada tanggal 24 Maret besok akan dibuka untuk umum. Peresmian akan dilakukan langsung oleh Bapak Presiden RI Joko Widodo, beserta sejumlah jajaran Menteri turut hadir. Sementara itu, dalam jumpa pers kepada wartawan di lokasi De Tjolomadoe, Selasa (20/3), Yuke Ardhiati, Historian dari Universitas Pancasila Jakarta mengungkapkan tentang sejarah pabrik gula Colomadu, yang merupakan pabrik gula terbesar yang dibangun oleh bangsa pribumi di tanah jawa, yaitu Mangkunegaran IV pada 157 tahun yang lalu. Seiring dengan perkembangan zaman, di mana lahan perkebunan tebu semakin menyusut, memaksa pabrik untuk tutup. Namun demikian, keberadaan bekas pabrik gula yang sarat sejarah, dinilai sebagai suatu potensi untuk berkreasi para seniman khususnya di Solo Raya, sebagai upaya pelestarian kebudayaan.

“Berdasarkan hasil studi kelayakan, bekas pabrik gula Colomadu dapat dimanfaatkan kembali sebagai tempat untuk berkreasi seni. Di sini ada greget tersendiri soal keterikatan dengan dunia seni, mengingat artefak cagar budaya di bekas pabrik yang cocok untuk kegiatan kebudayaan,” jelasnya.

Sementara itu, kurator Galeri Salihara, Asikin Hasan menyatakan, dengan keberadaan De Tjolomadoe, dapat menjadi tantangan bagi teman-teman seniman di Solo untuk lebih produktif berkarya.

“Infrastruktur seni rupa telah ada di De Tjolomadoe, apalagi  tarafnya internasional. Ini adalah potensi kota Solo sebagai ajang pameran karya-karya para senimannya,” ujarnya.

Sedangkan GM Kontruksi PT Sinergi Colomadu, Edison Suardi menyatakan, terdapat sejumlah ruangan di bekas pabrik gula yang diberi nama sesuai aslinya, yaitu Stasiun Gilingan yang difungsikan sebagai museum, Ketelan sebagai area kuliner, stasiun penguapan sebagai area arcade, stasiun karbonatasi sebagai area art and craft, Besali cafe, Tjolomadoe hall sebagai area concert, dan Sarkara hall untuk multi fungsi.

Menjelang openingnya, pihak De Tjolomadoe telah mulai memperkenalkan kepada masyarakat  dengan menggelar berbagai agenda kesenian yang digelar di kawasan De Tjolomadoe yang memiliki luas bangunan 1,3 ha di atas lahan seluas 6,4 ha itu. Ada pun agenda acara itu antara lain, tanggal 20 Maret Solo Jazz Society, 21 Maret pameran fotografi seni sketsa seni rupa video, 22 Maret diskusi ‘Urip Iku Urup’: arsitektur dan warisan budaya, pertunjukan musik Gilang Ramadhan Studio Band dan Perkusi, serta pertunjukan fesyen FSRD ISI Surakarta, Solo Batik Carnival. (endang paryanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *