Relawan Cak Imin Sragen Galang Dukungan

Spread the love

SRAGEN (poskita.co) – Dalam menyiapkan suksesi kepemimpinan nasional pada 2024 dan sebagai estafet kepemimpinan nasional bangsa, sudah saatnya harus memikirkan tokoh-tokoh bangsa yang muncul dari generasi muda. Sebagai sosok muda yang memiliki jiwa kepemimpinan nasional, Muhaimin Iskandar atau yang akrb dipanggil Cak Imin cocok dan mampu untuk menjadi Wakil Presiden (Wapres) RI, mendampingi Joko Widodo Hal ini dikemukakan Ketua Relawan Cak Imin Cawapres 2019-2024 (Rancak) Sragen, Rahmat “Gonit” Samsono, saat deklarasi Rancak Sragen, Kamis (22/2).

“Kami berharap kepada Pak Jokowi untuk mempertimbangkan Cak Imin menjadi wakilnya. Duet itu adalah kombinasi nasionalis dan agamis,” kata pria yang akrab dipanggil Gonit ini.

Sosok Cak Imin dianggap mumpuni sebagai cawapres, karena dia adalah tokoh pluralism yang bisa mengakomodir semua golongan, termasuk yang minoritas sekali pun. Gonit mengungkapkan, saat ini Rancak Sragen sudah terbentuk di 50% kecamatan dan saat ini tengah disiapkan agenda nasional, membahas membuat jaringan yang lebih besar lagi dan mengakomodir tidak hanya dari sisi NU tetapi juga elemen-elemen masyarakat yang lain.

“Bahkan rencananyakami juga akan mengundang Cak Imin ke Sragen,” tegasnya.
Dukungan yang diberikan ini atas nama pribadi masing-masing dari berbagai elemen. Selain itu, banyak teman nonpartisan juga cocok dengan sosok Cak Imin.

Apalagi latar belakang Cak Imin yang berasal dari kalangan Nahdliyin atau Nahdlatul Ulama (NU), yang selama ini sudah tidak diragukan lagi, karena ikut menjaga NKRI dengan sikap toleran dan demokratis, dalam berbangsa dan bernegara terhadap semua kelompok masyarakat. Kelebihan lain adalah semua partai politik yang ada, ketua umumnya masih dipimpin golongan tua. Hanya Cak Imin yang mampu sebagai ketua umum partai politik besar mewakli generasi milineal.

Memasuki masa milineal adala masa transisi bagi bangsa Indonesia. Renerasi kepemimpinan kepada generasi milineal adalah keharusan sejarah. Tentu butuh penyiapan kepemimpinan nasional ke depan dengan mengkombinasikan golongan tua dengan golongan muda. “Selainpertimbangan itu, bersatunya kekuatan nasionalis yang saat ini direpresentasikan dalam sosok Jokowi dan kekuatan religious yang saat ini masih dipresentasikan NU atau Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menjadi penting dalam mengawal transisi tersebut. Kedua kekuatan tersebut memiliki akar historis yang panang dalam sejarah NKRI,” tegasnya lagi. (carten)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *