Filosofi Jenang Merupakan Inti dari Mempersatukan Keragaman

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Pemkot Surakarta dalam memperingati HUT Kota Sala ke 273 menggelar berbagai event kegiatan, salah satunya festival jenang bertajuk  “Semarak Jenang Sala” yang diikuti 273 stan dari berbagai instansi pemerintah, Swasta, Ormas, Hotel, Kesehatan, Pendidikan dan masyarakat di Benteng Vestenberg,  Sabtu (15/2).

ST Wiyono selaku budayawan memaparkan, Jenang sudah ada sejak jaman dahulu, sebagai warisan luar biasa, tidak salah apabila kita mencoba selalu melestarikan jenang dari hari ke hari. Melestarikan dalam arti tidak hanya itu-itu saja tapi kita juga harus bisa  mengembangkan dengan teknologi dan informasi  yang sekarang sangat luar biasa.

“Even ini Sungguh luar biasa, saya sangat berharap seluruh masyarakat Solo bisa semakin guyub semakin rukun semakin penuh toleransi dan mencintai Solo sebagai kotanya,” lanjut ST. Wiyono kepada poskita.co.

17 macam jenang yang dipaparkan antara lain, jenang Sengkolo; terdiri dari jenang abang dan putih, merupakan simbol dari keberagaman manusia di dunia,  jenang Abang Putih; merah dan putih merupakan penciptaan asal usul manusia laki-laki dan perempuan maknanya selalu melihat sesuatu dengan dimensi yang luas namun tetap fokus pada apa yang menjadi tujuan.

Jenang katul; maknanya kita hidup tidak bisa berdiri sendiri selalu membutuhkan orang lain, meskipun berbeda-beda tapi kita selalu membutuhkan orang lain. Jenang Procot maknanya kehadiran untuk mendoakan supaya ibu yang hamil diberikan kelancaran dalam melahirkan, Jenang lemu maknanya tak lemah membangun semangat baru dalam kehidupan.  Jenang Ngangkrang maknanya manusia  seharus belajar mengontrol emosi kemarahannya agar kekuatan pada dirinya bisa bermanfaat untuk sesama.

Jenang majemukan, maknanya  Indonesia memiliki berbagai macam seni dan budaya menghormati dan menghargai perbedaan dalam  masyarakat yang plural multi kultur menjadi nilai yang penting di kehidupan sehari-hari.  Semoga dengan terselanggaranya Semarak Jenang Sala 2018, sungguh-sungguh masyarakat Solo  menyadari dan mencintai sesama kita, lingkungan kita dan mencintai Solo secara ikhlas dalam akhir sambutannya.

Salah satu peserta Stan dari Unisri Idah Wahyuti dalam penjelasannya, sangat banyak sekali manfaatnya mengikuti Semarak Jenang Sala ini, Karena kita memperingati hari jadi kota Solo yang ke 273 dan ini istilahnya nguri-uri makanan tradisional, tidak hanya jenang lemu tetapi ada berbagai macam jenang.

“Dari Unisri kita membuat bubur lemu dengan modifikasi sambel goreng berbahan dasar dengan labu kuning campur tolo dan cecek. Kita berdayakan mahasiswa dari Unisri yang mengolah teknologi pangan,” jelas Idah.

Lain lagi dari peserta Agas Hotel Sigit Surpiyai, untuk mengikuti Semarak Jenang Sala ini yang pasti untuk menguri-uri budaya kota Solo dan ini program pemerintah, kita wajib mengikuti dan untuk ajang silaturahmi hotel-hotel dan bahkan perusahan,  pendidikan, unsur pemerintah dan masyarakat umum.

Sedangkan peserta dari Rumah Sakit Dr. Oen bagian gisi, Wahyuningtyas menjelaskan.

“Yang pertama kita bisa membudayakan mengenai berbagai macam  jenis-jenis jenang, masyarakat Solo akan tahu berbagai macam jenang. Dan yang kedua kita promosi juga untuk rumah sakit, bahwa rumah sakit Dr. Oen memberikan pelayanan dengan berbagai macam pelayanan,” katanya. (Aryadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *