Nanang Yulianto, Ajak Apresian Untuk Ingat Kematian

Spread the love

Solo (poskita.co) – Nanang Yulianto (43) seorang praktisi seni rupa dan staff pengajar seni rupa di FKIP UNS, baru-baru ini menggelar karya-karyanya dalam pameran “Mememto Mori” di Balai Soedjatmoko Solo, 13-19 Desember 2017 lalu.

Memento Mori (ingat akan kematian), bisa dimaknai dengan teks Jawa sebagai jantraning laku saka wiwitan, tengahan lan pungkasane manungsa. Ruang dan waktu bagi seorang kreator dinisbatkan sebagai tempat untuk berdialog terus menerus dengan diri. Oleh karena itu, menikmati karya-karya Nanang Yulianto pada pameran kali ini eperti melihat perjalanan kehidupan Nanang dalam mengarungi kehidupan.

“Pameran ini sebagai ruang-ruang perjalanan untuk berkomunikasi, berdialog kepada diri sekaligus bertanya kepada publik yang membaca karyanya, sebagai refleksi bagi perjalanan batinku sebagai kreator,” jelas Nanang.

Menurut perupa Solo, Bonyong Muniardi, sipapun yang melihat karya-karyanya Nanang Yulianto, itu bisa memaknai berbagai pengertian, bahwa bentuk-bentukya itu adalah ekprei-ekpresi yang keluar untuk ditampung menjadi sebuah karya seni, memang tidak terlalu jelas sekali apapun yang diutarakan. Sesuatu yang harus dimengerti oleh penikmat bahkan mempunyai sebuah aksi yang sangat kuat untuk penikmatnya.

Menikmati karya-karya Nanang Yulianto , seperti kita dibawa ke dalam dunia yang mencekam. Di dinding tertempel berbagai karya luksian abstrak yang mengantar kita pada dunia antah berantah.

Di sisi yang lain kita akan menemukan karya mixed media dengan medium campuran yang berjudul “Puisi Alam”. Melihat karya berukuran 240x 366 cm ini, apresian seperti diajak untuk merasakan lika-liku kehidupan, perjuangan hidup yang keras penuh dengan luka dan di sisi yang lain juga penuh keterkejutan dan indah. Ranting-ranting pohon yang ditempel ke dalam dinding triplek tak beraturan dan dibalut dengan perban dan ujungnya diberi warna merah seolah-olah mengingatkan penikmat akan pahit getirnya kehidupan.

Sebagai seorang pelukis abstrak, karya ini juga tidak meninggalkan keabstrakkannya, tidak hanya pada susuann ranting yang tidak beraturan tetapi juga jatuhnya bayangan ranting di dinding triplek berwana ungu yang membuat efek visual dan menambah kerumitan karya tersebut. (aryadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *