Lingkarasa, Menggabungkan Unsur Lingkaran dengan Rasa yang Dikemas dalam Karya Kriya

Spread the love

SOLO (poskita.co) –  Delapan mahasiswa Prodi. Kriya Seni ISI Surakarta menggelar pameran “LINGKARASA”, sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka setelah mengikuti proses pembelajaran mata kuliah Kuratorial. Pameran ini diselenggarakan 6-8 Desember 2017 di galeri Seni Rupa Kampus II ISI Surakarta, Mojosongo.

“Lingkarasa” terdiri dari 2 kata, lingkar dan rasa. Lingkar yang berarti suatu bentuk dengan sudut yang tak terbatas. Sedangkan rasa adalah tanggapan hati terhadap sesuatu (indra). Lingkaran juga dimaknai sebagai proses yang tidak terputus dan selalu berkembang sesuai rasa yang ditimbulkan oleh perupa. Rasa berhubungan dengan emosi setiap pribadi sehingga akan terwujud sebuah karya yang berbeda, walaupun dengan satu konsep yang sama.

“Lingkarasa menjadi konsep  pengembangan ide kreatif yang  divisualkan dalam bentuk karya kriya. Oleh karena itu, bentuk karya  yang ditampilkan pada pameran ini berunsur  lingkaran dan divisualkan dalam berbagai media, seperti kayu, logam, kulit tekstil, dan keramik,” jelas ketua panitia, Stefanus Andri, Rabu (6/12) setelah pembukaan pameran.

Andri lebih lanjut menjelaskan, latar belakang mengadakan pameran ini yaitu hasil proses belajar mata kuliah kuratorial.

“Intinya untuk melatih kami menggelar pameran dengan  tempat, waktu dan tema yang kami tentukan sendiri. Dengan sumber daya yang cuma 8 orang kami harus mempraktikkan kerja kuratorial dengan sumber dana yang minim,” jelasnya.

Pameran ini menghadirkan 34 karya dari 24 pengkarya. Diharapkan pameran “Lingkarasa” ini dapat menambah wawasan khalayak umum tentang perwujudan berbagai jenis karya kriya dalam satu konsep yang sama, Lingkaran.

Di kesempatan yang sama, Kaprodi Kriya seni, Rahayu Adi Prabowo menjelaskan tujuan pameran ini untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam bidang kuratorial.

“Kami berharap  mahasiswa  sebagai civitas akademika tahu benar kerja kuratorial itu seperti apa, ini yang kita harapkan semoga nanti muncul kurator-kurator yang handal. Sehingga kita bisa berbicara khasanah seni rupa di Solo, Jawa Tengah, Indonesia  bahkan internasional, “ terang  Rahayu Adi Prabowo. (aryadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *