Keris sebagai Warisan Dunia dalam Aktualisasi Kekinian

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Untuk melestarikan budaya bangsa, terutama keris, UPT Museum Dinas Kebudayaan Kota Surakarta mengadakan Dialog Budaya bertajuk, “Keris sebagai Warisan Dunia dalam Aktualisasi Kekinian” di Hotel Dana, Kamis (23/11).

“Indonesia negara adidaya, maka kita harus mampu melestarikan budaya bangsa, dan berpesan bahwa seni jangan diinovasi tapi dikembangkan,” jelas walikota Surakarta, FX Hadi Rudiatmo saat memberi sambutan.

Dalam kesempatan itu, salah satu pembicara,  Drs. Tundjung Wahadi Sutirto, M.Si. menjelaskan keris sebagai Warisan dunia, UNESCO memandang keris memiliki nilai luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia. Selain berakar dalam tradisi budaya dan sejarah masyarakat Indonesia, keris juga berperan sebagai jatidiri bangsa, sumber inspirasi budaya, dan masih berperan sosial di masyarakat.

“Keris dalam masyarakat dan budaya Jawa bukan hanya dimensi denotatif harafiah, melainkan memuat dimensi simbolik konotatif baik dari kacamata mistis dan sosial-politik. Keris dalam ungkapan simbolik adalah sebuah metafora kekayaan filosofis Jawa yang luar biasa,” tambahnya.

Sementara MT. Arifin menceritakan keris Kyai Rajah Kalacakra untuk menguak isu-isu perkerisan legendaris. “Kemunculan bilah keris tersebut dalam sejarah tradisi Jawa sebagaimana dimuat dalam Babad Tanah Djawi”, jeasnya.

Lebih lanjut MT. Arifin menjelaskan bahwa Kalacakra atau Rajah Kalacakra dalam kenyataan yang diketemukan pada bilah pusaka, apakah berupa bilah keris maupun tombak, biasanya berbentuk pahatan atau relief pada bagian permukaan bilah pusaka, yakni seekor binatang kalajengking dan lingkaran cakra yang disebut cakrabaswara, sebagai anak panah senjata dari Dewa Wisnu dan para keturunan anak muridnya.

Penamaan bilah keris yang legendaris dengan kalacakra, tampaknya sudah berlangsung sejak jaman kuno, hal itu dapat diketahui pada saat Mpu Begawan Linggayuwana dikerajaan Kahuripan yang hidup pada era pemerintahan Prabu Airlangga (1019-1042) membabar bilah keris lurus dhapur tilamupih dan diberi nama Sang Kalacakra, yang menjadi salah satu diantara keris pusaka Prabu Airlangga.

Sedangkan, Drs. Agus Suprihanto, ST.MT. memaparkan tentang korosi dan perawatan keris, korosi adalah degradasi logam akibat berinterasi dengan lingkungan, pada intinya korosi tidak dapat dihindari, tapi dapat dikendalikan. “Seyogyanya keris disimpan di tempat yang kering, bersih dan bebas dari kontaminasi zat yang bersifat korosif baik yang berasal dari cara pengkondisian dan cara penyimpanan,” jelas Agus. (aryadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *