Manusia Kepompong Sembunyi di Purwantoro

Spread the love

WONOGIRI (poskita.co) – Suparman (60), warga Dusun Kepuh, Desa Ploso, Kecamatan, Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, sejak 35 tahun lalu hanya bisa bergerak di ruangan tanpa dinding berukuran sekitar lima meter persegi. Demi mendapatkan kehangatan di malam hari, mantan pemain wayang orang itu membungkus diri dengan rajutan perca plastik bekas.

Bagi warga Dusun Ploso, kondisi Suparman bukan hal aneh. Rasa kasihan juga tak lagi melintas meski di dalam kepompong itu, kaki kiri Suparman dirante dan satu ujungnya dicor ke lantai tanah. Sebab Suparman dikenal sebagai penderita sakit jiwa yang konon suka ngamuk.

“Biar diobatkan kemanapun tak bakalan sembuh karena penyakitnya itu akibat disendangke (istilah setempat untuk penggunaan susuk- red),” ujar keponakan Suparman yang enggan disebutkan namanya, Kamis (19/10).




Keponakan menantu Suparman itu menuturkan, Suparman sakit jiwa gara-gara saat masih muda menggunakan “susuk” agar menjadi penari handal. Namun karena ada hal-hal di luar nalar manusia, lelaki yang hingga kini masih lajang itu menderita gangguan jiwa.

Lantaran kepercayaan terhadap hal mistis inilah, Suparman tak pernah mendapat perawatan medis. Dia dibuatkan tempat berteduh tanpa dinding di belakang rumah. Agar tidak bisa pergi ke mana-mana, kakinya dirantai.

Uniknya, Suparman membangun dinding dari perca plastik yang dia ambil dari tempat sampah di dekatnya. Perca berbagai macam plastik itu dia satukan menggunakan tali yang dia buat sendiri dari sobekan kain.

Di bagian atas, tali itu diikatkan ke kayu secara tidak beraturan. Sedang bagian bawah, Suparman membuat patok dari tanah liat untuk memancang tali. Jadilah Suparman seperti manusia kepompong yang bersembunyi di balik dinding perca plastik.

“Keluarga kami yang merantai agar dia (Suparman- red) tidak ke mana-mana. Sebab dia suka ngamuk,” sahut  Ny. Jikem, keponakan Suparman yang selama ini mengurusi kebutuhan makan pamannya itu.

Disinggung tentang pengobatan ke rumah sakit jiwa, Ny. Jikem menolak.

“Tidak. Biar kami yang merawat dia. Nanti dia malah ngamuk di rumah sakit,” tegas Ny. Jikem. (W1di)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *