Kuda Lumping Diklaim Malaysia, Pemerintah Harus Bersikap!

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Beberapa hari belakangan ini, warganet di medsos heboh karena salah satu kesenian tradisi Indonesia,  kuda lumping telah diklaim oleh Malaysia. Kasus ini berawal dari unggahan Miss Grand Malaysia 2017, Sanjeda Jhon di akun instagramnya, @missgrandmalaysia berpose mengenakan kostum rancangan Hana Yakoob dengan menyertakan properti kuda lumping. Unggahan pada 27 September 2017 tersebut disertai keterangan kostum itu terinspirasi dari komunitas Jawa di Selangor.

Banyak elemen masyarakat yang mempersoalkannya, terutama para seniman dan budayawan. Salah satunya adalah Quinta Nova, perancang konstum karnaval dari Solo. Salah satu karya Quinta sempat dipakai oleh putri Indonesia Liza Elly dalam ajang Miss International pada sesi parade di kawasan Kokusai Avenue, Palette Square, Okinawa, Jepang tahun 2012. Bahkan kostum tersebut, menurut Quinta sempat mendapatkan penghargaan sebagai The Best Style Costume versi Missosology.

“Jauh sebelum kasus ini, pada tahun 2012 sebetulnya saya pernah membuat kostum karnaval bertema kuda lumping. Pada saat itu bersama dengan perancang lainnya, Tiwi Affanti  merancang kostum karnaval untuk putri Indonesia 2012 yang beradu diajang Miss International di Jepang dn mendapatkan penghargaan,” jelas Quinta Nova kepada poskita.co di kantornya (4/10).

Selain pada ajang Miss International 2012., kostum karnaval dengan tema kuda lumping juga diangkat Quinta untuk Tim Indonesia pada event Parade Chingay di Singapura 2017 dan promosi Wonderful Indonesia di Taiwan 2017.

“Saya memang sangat ingin terus mengangkat kuda lumping, karena ini menarik sekali, tidak hanya tariannya, jugai jika divisualkan dan diangkat sebagai kostum akan sangat menarik,” kata Quinta.

Dalam menampilkan kuda lumping sebagai salah satu elemen estetis kostum karnaval tidal asal comot saja seperti perancang Malaysia, tetapi Quinta melakukan riset yang panjang.

“Untuk membuat karya dengan elemen kuda lumping itu saya melakukan riset yang panjang. Saya datang ke kesenian tradisionnal di beberapa daerah yang ada kesenian tradisi kuda lumping, seperti di masyarakat lereng merbabu atau di lereng gunung Sindoro Sumbing. Pada awalanya kan kesenian ini tercipta dari para prajurit Pangeran Diponegoro yang lari ke gunung-gunung kemudian kisah kepahlawanan perjuangan mereka itu diekspresikan ke dalam bentuk tarian kuda lumping itu, “jelas Quinta.

Sudah lama riset kesenian kuda lumping sebagai inspirasi kostum karnaval, Quinta menjadi kesal juga ketika mendengar bahwa kesenian kuda lumping diklaim oleh Malaysia.

“Malaysia kan tidak tahu sejarahnya kuda lumping, kalau mereka tahu pasti akan malu. Terus terang saya kesal, tetapi sebagai individu saya bisa berbuat apa, seharusnya pemerintah yang mengambil sikap, atas kasus ini harus dipertanyakan ke sana, “ kata Quinta.  (sat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *