Berkat Sekar Jagad, Kebo Kinul Mendunia

Spread the love

SUKOHARJO (poskita.co) – Banyak potensi yang dimiliki Sukoharjo, di antaranya sebagai kota jamu, kota tekstil, penghasil gitar, rotan, lurik, hingga gamelan. Tapi, sebagian masyarakat masih belum paham Sukoharjo memiliki tarian Kebo Kinul yang bukan saja menasional, tapi mendunia.

Berbagai rangkaian peristiwa moncernya Kebo Kinul, di antaranya saat siswa-siswi SLB Hamong  Putro Jombor, Bendosari, Sukoharjo, mementaskan Tari Kebo Kinul di ajang Pergelaran Seni dalam rangka peringatan Hari Disabilitas Internasional di Alun-Alun Satya Negara Sukoharjo.

Pemilik yang sekaligus pelatih tari yakni Joko Ngadimin selama ini nekat memperkenalkan seni khas Kabupaten Sukoharjo ini ke Metro TV agar bisa dimasukkan dalam program acara dari Kick Andy dan  berhasil yang diikuti dengan kunjungan dari Andy F. Noya pada tahun 2012. Selain itu, Joko Ngadimin  bekerjasama dengan beberapa aktivis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memperkenalkan  Kebo Kinul ke ketua umum partai tersebut. Hal ini ditindak-lanjuti dengan kujungan mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri yang kemudian beserta Puan Maharani pada tahun 2013.

Berikutnya adalah kunjungan dari Direktur Magetzu Kaigan Jepang serta beberapa seniman Prancis dan India pada tahun 2013. Sayangnya pelaku seni Kebo Kinul bisa dikatakan berasal dari masyarakat  yang sudah tidak termasuk remaja dan tidak memiliki latar belakang pendidikan seni seperti peternak sapi dan kambing, petani sawah dan bawang merah, pedagang pasar Polokarto, pedagang keliling, mantan aparat desa, dan wiraswasta. Para pelaku seni tersebut hanya berbekal keuletan
dan kesabaran dalam berlatih.

Menjelalah Eropa Menurut Joko, sejak tahun 2005 Tari Kebo Kinul sudah mendunia, sudah terkenal di berbagai negara di antaranya sejumlah negara Eropa, sebut saja Jerman, Perancis, Swiss, hingga Belanda. Kebo Kinul dipentaskan untuk mengisi International Youth Conference (IYO). Sayang, tak semua orang paham
tentang Kebo Kinul. Padahal, Tari Kebo Kinul memiliki makna yang dalam dalam pengembangan seni  tradisi.

Kebo Kinul pada awalnya dimunculkan di Genengsari, Polokarto, oleh Dalang dari Polokarto Ki Kliwir (alm). Lalu dilanjutkan dan dilestarikan, pertama, Sanggar Sekar Jagad, Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (POPK) Sukoharjo, Sri Raharjo, dan sanggar lainnya. Ternyata, Tari Kebo Kinul dimaknai berbeda satu sama lain, tiap sanggar maupun instansi mengembangkan Kebo Kinul sesuai dengan kreasinya (ciri khas) masing-masing.

Untuk Sekar jagad, kata Joko Ngadimin, lebih fokus pada nilai-nilai pertanian, ada kidung , ada mantra pertanian, yang dibuat tembang, properti upacara pertanian (sesaji), properti lesung (manifestasi dewi Sri), kemudian pak tani dan bu tani, wayang kulit (diambil beberapa tokoh seperti Mbok Sri, tokoh buto melambangkan hama tanaman), Werkudara manifestasi dari Kebo Kinul.

Adapun mantra yang dibuat Joko merujuk pada mantra leluhur. Ada dua mantra, yakni Kidung Pari Sak Wuli yang berwujud tembang dan Kidung Dewi Sri yang berwujud geguritan [puisi Jawa]. Kebo Kinul kolaborasi tari, tembang, mantra (doa), musik bambu dan gamelan, didukung properti lesung, orang-orangan sawah, bapak ibu petani, hingga memerankan tikus sebagai hama.

Tari Kebo Kinul sebenarnya sudah ada sebelum Pak Kliwir, sudah ada sejak zaman nenek moyang. Biasanya dipentaskan habis panen, sebagai tanda syukur. Ketika pentas, Pak Kliwir menggunakan gamelan, hanya beberapa instrumen gamelan seperti ketuk, bonang, saron.

Bagi Joko Ngadimin, Ketua Gerbang Budaya Nusantara, Kebo Kinul merupakan seni tradisi yang hebat dan harus dilestarikan. Pada zaman dahulu Kebo Kinul ditampilkan saat panen raya sebagai ucapan syukur sekaligus sarana berdoa kepada Tuhan. Pada masa lalu masyarakat yang menyebut dewi padi Dewi Sri. Mereka berharap agar tidak ada hama, dan panen pun jadi lancar dan bagus. (cosmas sabdo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *