Tinjau Ulang Penambangan, Mata Air Perbukitkan Desa Sumber Hidupi Ratusan KK

Spread the love

BOYOLALI (poskita.co) – Penambangan galian C di sebuah perbukitan di Desa Sumber, Kecamatan Simo, Boyolali perlu dikaji ulang. Pasalnya, bukit milik perorangan itu menyediakan  kebutuhan air bersih ratusan kepala keluarga. Bahkan,  pasokan air wudhu tempat ibadah pun juga bergantung dari mata air yang memancar deras dari lahan yang sudah mendapatkan izin produksi penambangan dari Pemprov Jateng.

Dari keterangan warga secara turun temurun, ratusan jiwa menikmati air bersih dengan hanya dengan memasang pipa yang ditancapkan di dasar tanah di beberapa lokasi di perbukitan itu.

Lonjoran pipa berdiameter 5 cm memanjang mulai dari perbukitan Sumber menuju rumah-rumah warga hingga sejauh 1 km. Pipa-pipa ini mengular di tepi selokan dan berpusat di dua sumur di sisi utara bukit yang dasarnya ditanam pipa ukuran besar.

Camat Simo, Sri Hanung Mahendra mengungkapkan, jumlah itu belum ditambah pipa-pipa lain yang ditanam warga di perbukitan di sisi selatan.

“Jumlahnya lebih banyak lagi,” tutur Hanung.

Ia mengungkapkan, wilayah Sumber merupakan daerah perbukitan yang relatif tandus. Di desa itu terdapat sawah tadah hujan dan ladang. Sumber air yang minim membuat warga mengandalkan air minum dari sendang atau telaga. Hanung mengungkapkan, jaringan PDAM belum masuk desa ini. Karena jarak antara Desa Sumber dan kecamatan 10 km.

“Nah, kebetulan di perbukitan ada sumber air, warga ambil air dari situ dengan cara iuran,” imbuhnya.

Ia membenarkan rencana investor yang hendak membuka tambang galian C, belum lama ini dijawab dengan penolakan keras. Warga menolak jalur dialog antara penambang, instansi terkait, karena merasa tidak ada komunikasi sebelumnya. Lagi pula warga yakin, bila penambangan benar digelar di sana, maka salah satu sumber kehidupan mereka akan mati.

“Ya jadinya seperti itu, warga menolak, dan berdemo. Itu murni keinginan warga, loh” imbuhnya.

Ketua RT 13 RW 2 Sumber, Bagus Joko Susilo membenarkan, rencana penambangan di desanya akan mematikan sumber mata air. Meski lahan yang ditambang milik pribadi, tetapi lahan itu telah menghasilkan air bersih yang amat dibutuhkan warga.

“Wajar jika warga di sini menolak penambangan. Warga yang dirugikan karena sumber air bakalan mati,” katanya. (theo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *