Mbah Rasimun, 72 Tahun Menekuni Dunia Payung Mutho

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Jemari tangannya lincah menggoreskan cat pada payung kertas, dalam waktu singkat terciptalah ornamen bentuk flrora yang indah. Itulah mbah Rasimun, seorang ahli pembuat payung mutho dari sanggar Ngepot Malang.  Kemampuan lelaki berusia 90 tahun ini memukau pengunjung Festival Payung, Sepayung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Sabtu 16 September 2017.

Pada saat berusia 18 tahun, mbah Rasimun belajar membuat payung mutho dari penduduk Tanggul Angin Sidoardjo (15 KK) yang mengungsi di keluarga Rasimun akibat agresi militer Belanda tahun 1945.

“Para pengungsi ini ternyata ahli membuat payung mutho. Dari aktivitas keseharian mereka, akhirnya saya tertarik belajar membuat payung mutho,” jelas Rasimun, di tengah demo kepada poskita.co (16/9).

Pada saat itu (tahun 1945), kondisi Indonesia memang belum kondusif karena Belanda masih menyerang dan ingin terus menguasai Indonesia. Sebagai pemuda yang cinta tanah air, mbah Rasimun juga ikut berjuang melawan Belanda.

“Saya pada saat itu ikut gerilnya memerangi Belanda, di sela-sela itu saya tetap membuat payung mutho. Boleh dikatakan, dalam membuat payung mutho harus sembunyi-sembunyi, “ jelas Rasimun.

Setelah masa agresi militer Belanda itu reda, Rasimun muda kembali ke daerah asalnya dan melanjutkan pekerjaannya membuat payung mutho. Di daerahnya, kampung tersebut menjadi sentra pengrajin payung mutho. Sekitar tahun 1965, pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia dan kasus pemberontakan G30 S/ PKI meletus daya beli masyarakat turun, akhirnya memaksa Rasimun beralih profesi menjadi tukang becak.

“Susah memang, tetapi membuat payung mutho tidak berhenti. Saya tetap membuat payung mutho, tidak sebagai pekerjaan tetapi hobi. Selama lima belas tahun saya narik becak,” kata Rasimun.

Pada awal 1980an, setelah aspek sosial, politik maupun ekonomi bangsa Indoensia mulai stabil, mbah Rasimun kembali membuat kerajinan payung mutho sampai sekarang.

“Pada saat itu, setelah pernikahan anak, saya diberi anak uang 100rb. Uang itulah modal awal saya membuat kerajinan payung mutho yang berkembang seperti sekarang ini, “ kata Rasimun menutup pembicaraan. (sat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *