Kapolres Waykanan Hina Ayah Kapolri *PWI Solo Desak AKBP Budi Asrul Dimutasi*

Spread the love

SOLO- Penghinaan profesi wartawan yang dilakukan Kapolres Waykanan, AKBP Budi Asrul Kurniawan mendapat kecaman dari PWI Surakarta.

“Apa yang dilakukan Kapolres tersebut sangat menyakiti teman-teman wartawan seluruh Indonesia,” jelas Wakil Ketua PWI Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan, Sri Hartanto, Senin (28/8/2017).

Apa yang dilakukan AKBP Budi Asrul Kurniawa harus ditanggapi serius sehingga tidak hanya berhenti setelah yang bersangkutan minta maaf. “Harus ada langkah nyata untuk melaporkan masalah ini ke ranah hukum,” jelasnya.

Selain itu, perlu ada sanksi dari pimpinan Polri agar yang bersangkutan dicopot jabatannya sebagai Kapolres.

Ditambahkan Sri Hartanto, jika benar apa yang diucapkan Budi Asrul Kurniawan mengdeskreditkan profesi wartawan sebagai kotoran hewan itu penghinaan yang sangat luar biasa. “Yang bersangkutan tidak mencerminkan sikap sebagai pimpinan untuk menghormati tugas wartawan,” tandasnya.

Disamping itu, sikap Budi Asrul Kurniawan juga menghina profesi Ayah Kapolri Jenderal Tito Karnavian,Achmad Saleh yang juga sebagai wartawan era 1960-an. Beliau wartawan senior di Palembang,Sumatera Selatan.

Profesi di bidang jurnalistik menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk membiayai sekolah Tito hingga meraih jabatan tertinggi di kepolisian.

Achmad Saleh menggeluti dunia kewartawanan sejak awal 1960-an di RRI. Selanjutnya, ia membidani pendirian koran Ekonomi Pembangunan, Pelita, dan koran Angkatan Bersenjata edisi Sriwijaya. “Saya pernah mendirikan koran terbitan Palembang,” katanya dirumahnya Jalan Sambu, Palembang, belum lama ini. “Saya menjadj anggota PWI seumur hidup PWI,” terang ayah Kapolri tersebut.

Seperti diberitakan diberbagai media, Kapolres Waykanan AKBP Budi Asrul Kurniawan beraksi kelewat batas terhadap wartawan. Ketika jurnalis hendak mengabadikan sebuah cekcok yang nyaris berujung chaos, dia malah melarang sang pewarta untuk mengabadikan peristiwa tersebut.

Perwira menengah itu malah menghina profesi wartawan dan mendiskreditkan media cetak di Lampung. Di hadapan dua wartawan, Budi menyamakan profesi jurnalis dengan kotoran hewan.
Bukan itu saja, dia juga menyatakan koran di Lampung tidak ada yang membaca.

Penghinaan tersebut dia lontarkan saat penertiban massa pro dan kontra batu bara yang hampir terlibat chaos di Kampung Negeribaru, Blambanganumpu, Waykanan, Minggu (27/8) sekitar pukul 02.30 WIB.(gito)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *