Pameran Kalacitra Beber Kehidupan Masa Lalu

Spread the love

YOGYAKARTA, (Poskita) – Perupa Solo, Soegeng Toekio menggelar pameran gambar beber “Kalacitra”  di galeri Tahun Mas, Kasongan Yogyakarta. Menampilkan 60 karya, pameran ini berlangsung selama enam hari, tgl. 27 Agustus – 1 September 2017.

Karya Soegeng Toekio bergaya dekoratif ilustratif, yaitu karya seni lukis dengan gaya dekoratif yang menggunakan cara penggambaran yang diindah-indahkan (stilasi), dengan kekuatan pada figur yang khas komikal dengan bentuk seperti wayang beber. Mengilustrasikan peristiwa tradisi yang diidentifikasi dari pakaian figur manusianya yang kemudian dikontraskan/ dipertentangkan dengan warna-warna populer kekinian.

“Gambar pada karya Toekiyo adalah gambar dari gambaran yang sesungguhnya tentang kehidupan dan perilaku manusia, emosi, fantasi, pemujaan pada alam dan seisinya. Bahasa gambar itu sengaja Tukiyo adopsi dari bahasa Wayang Beber yang muncul sejak zaman kerajaan Kediri, Jenggala dan semakin berkembang di zaman Majapahit,” jelas kurator pameran, A. Anzieb di pembukaan pameran (26/8).

Soegeng Toekio lahir di Bandung, 5 Desember 1942. Lahir dalam keluarga Jawa, Soegeng Toekio hidup dalam dua budaya, di dalam keluarga dia mengenal budaya Jawa dan di luar rumah mengenal budaya Sunda. Semasa kecil, dia sering diajak neneknya melihat pertunjukkan wayang orang di gedung Sri Murni yang  terletak di daerah Kosambi Bandung. Tidak mengerti detil ceritanya, tetapi Soegeng Toekio kecil sangat tertarik pada kostum dan desain panggungnya. Ketertarikannya pada kostum wayang orang dan desain panggung itulah akhirnya yang membentuk salah satu karakter karyanya.

“Simbah sering mengajakku melihat wayang orang di gedung Sri Murni. Setiap malam minggu dan hari libur, aku selalu diajak melihat wayang orang. Setiap melihat pertunjukan tersebut, aku lebih suka melihat simbahku yang kadang-kadang tertawa, tersenyum atau kelihatan sedih. Aku tidak mengerti maksud pertunjukan itu, jadi biasanya di tengah pertunjukkan sudah tidur. Hanya saja, yang menarik buatku pada saat itu adalah suasana peralihan adegan, layar atau geber yang menghiasi panggung dan kostum pemainnya yang indah”, jelas Soegeng Toekio di sela-sela pembukaan (26/8).

Pada karya Soegeng Toekio, kostum atau pakaian menjadi elemen yang sangat penting.  Pakaian tidaklah benda yang bebas nilai, karena merepresentasikan sesuatu. Misalnya baju dan celana tani hitam dengan kaos putih bergaris merah akan merepresentasikan warok atau Ponorogo. Demikian halnya dengan blangkon atau penutup kepala lainnya. Dengan teknik penggambaran figur yang sama, maka kostum menjadi salah satu penanda dari daerah mana orang yang di dalam karya tersebut berasal.

Tema Karya Soegeng Toekio bertolak dari khasanah budaya nusantara, baik perupaan dari sumber verbal maupun non verbal seperti kesejarahan, mitos, legenda, wayang, cerita rakyat, dan juga berbagai perupaan peninggalan kuno. Contohnya antara lain karya yang berjudul, “Sesaji Desa”, “Wingit”, “Gogoh Iwak”, “Dolanan”, “Ruwatan, “Jaga/Jogo Pari”, “Jaga Laut”, “Tedak Siti”, “Pengajian”, “Pasar Pojok”, dan  “Dewi Sri”.

Dalam pameran kali ini, Soegeng Toekio seolah membeber gambaran kehidupan tradisi masa lalu. Kita dapat belajar banyak darinya, baik dari cerita, legenda dan mitos atau kostum tradisi yang dihadirkan pada karya tersebut. (Sat)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *