Musik Kuno Pemikat Cinta dan Pengusir Hama Khas Wonogiri

Spread the love

Wonogiri-Poskita Seni musik kuno dari bambu yang satu ini, pernah jadi trend anak muda memikat cinta. Alunan musik ini, juga dipercaya punya kekuatan magis mengusir hama tanaman pertanian.

“Anak muda jaman dulu memikat cinta dengan membunyikan rinding pada malam hari, sambil menyeret “theklek” (sendal dari kayu). Meskipun bahannya sama, suara masing-masing rinding ini beda-beda,” papar Suliyo, Pimpinan Musik Bambu Rinding asal Dusun Sampang, Eromoko, saat mendapat tanggapan di Istana Parnaraya, belum lama ini.

Ya,. . . namanya Musik Rinding, khas masyarakat Wonogiri Selatan. Iramanya sederhana, sayup dan lembut. Namun seni musik kuno ini, pernah menjadi idola masyarakat Pulau Jawa pada ratusan tahun silam. Sayangnya, seniman Rinding sekarang bisa dihitung jari. Itu-pun dari kalangan generasi yang tak muda lagi.

Personil musik tradisional ini, minimal empat orang, dengan empat jenis alat musik yang dibuat dari bilah-bilah bambu.  Rinding sendiri, semula hanya nama satu alat musik dari seutas benang yang dikaitkan dengan rongga kecil  di sebilah bambu. Bunyi alat musik ini dihasilkan dari getaran bambu dan benang yang dihentak-hentakkan di depan mulut pemainnya.

Agar menghasilkan  irama yang mampu mengiringi sebuah lagu, musik tradisional ini ditambah lagi empat buah alat musik tiruan mirip kentongan untuk menghasilkan suara kenong, celempung, saron , dan demung. Keempat alat tambahan tersebut, mewakili empat nada, yakni pi , nem , mo dan lu , atau dalam tangga nada diatonik hanya terdiri nada  si, la, sol dan mi.

Suliyo mengatakan, pada jaman dahulu kala, musik rinding memiliki makna tersendiri dalam filosofi kehidupan dimasyarakat suku jawa. Bukan cuma untuk memikat asmara. Musik ini juga dipercaya para petani mampu mengusir berbagai macam hama tanaman.

“Unik sekali. Seharusnya kesenian-kesenian kuno seperti ini perlu digali dan dilestarikan lagi. Sokur-sokur Pemerintah Wonogiri bersedia turun tangan untuk memfasilitasi.” Ujar Suparno, pecinta musik tradisional yang juga pemilik Istana Parnaraya.

Terlepas dari makna mistik dibalik alunan musik rinding, kesenian unik ini pernah menjadi hiburan yang dipertontonkan. Meski kesenian kuno semacam ini semakin hilang seiring kemajuan jaman, tidak ada salahnya jika sekarang kita gali lagi, agar budayatradisional warisan nenek moyang kita ini, tetap lestari. (ewa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *