Ormas Berpeluang Tandingi Satgas PPA

Spread the love

Wonogiri, (poskita)  Ormas mampu menjadi kekuatan memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Itu gagasan anggota komisi VIII DPR RI asal Wonogiri, Endang Maria Astuti.

“Ormas kan baru kita himbau hari ini. Sedang satgas PPA sudah setahun lebih,” kata Endang tentang dua kekuatan untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak itu.

Endang menilai kedua kekuatan itu punya perbedaan, dengan menganggukkan kepala ketika disebut peran Satgas PPA tidak signifikan dengan usianya yang sudah setahun.

Lebih jauh, Endang mengatakan, ormas memiliki instrument sampai ke bawah. Dengan motivasi secara simultan,  dia berharap peran ormas dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak lebih bisa berjalan.

“Kalau ormas sudah ada implementasi penyadaran lewat kajian-kajian maupun pengajian. Tinggal bagaimana memotivasi agar mereka mampu mensyiarkan secara masiv pencegahan kekerasan perempuan dan anak,” kata Endang, belum lama ini.

Sebelumnya, pilihan membentuk Satgas PPA dibanding memberdayakan organisasi yang sudah memiliki struktur hingga tingkat RT, seperti PKK, dalam  mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurut mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yambise, di Wonogiri beberapa waktu lalu, karena PKK tidak berhubungan langsung dengan kementrian.

“Satgas ini fokus untuk perempuan dan anak yang berkoordinasi langsung dengan kita. Jadi Satgas ini bertanggung jawab langsung ke mentri. Kalau lembaga lain masih belum ada hubungan langsung dengan kita,” terang Yohana.

Meski begitu, Yohana mengatakan, kementriannya mempunyai deputy partisipasi masyarakat yang merangkul lembaga lain. Diantaranya enam organisasi perempuan, seperti PKK dan Dharma Wanita.

Sementara itu pembentukan Satgas PPA menurut Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, lantaran konstruksi pemerintahan hingga level desa, masih menghadapi persoalan sangat kompleks. Sehingga Satgas PPA merupakan upaya membangun komitmen baru dengan melibatkan sumber daya manusia (SDM) yang duduk pada jabatan strategis di tingkat kabupaten hingga desa.

“Dari waktu ke waktu angka kekerasan seks terhadap anak di bawah umur terus meningkat. Harapan kami kolaborasi ini menumbuhkan satu komitmen baru. Karena sebanyak apapun regulasi, kita harus memahami bahwa masyarakat kita banyak yang tidak paham,” tandas Joko Sutopo. (widi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *