Waldjinah, Ratu Keroncong (1) Juara Menyanyi Sejak di Bangku SD

Spread the love

Saat usia  belia, 12 tahun, sudah menyanyi keroncong. Ketekunan dan kegigihannya membawa hasil, Waldjinah meraih Juara I Bintang Radio Indonesia Tahun 1958 hingga Anugerah Musik Indonesia (AMI) tahun 2013 dan 2015.

Puncaknya, seniman legendaris keroncong Waldjina menerima penghargaan dari Presiden RI Joko Widodo, saat merayakan ulang tahunnya ke-70 bertajuk Keroncong Pesona Indonesia Persembahan untuk Waljinah, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1 April 2016.

“Ibu Waldjinah terima kasih atas totalitasnya mengabdi dan menjaga kebudayaan Indonesia,” kata Presiden Jokowi.

Selain penghargaan di atas, Tahun 2002 Waldjinah menerima anugerah seni dari yayasan musik Hanjaringrat di Solo dengan komponis Gesang dan para seniman yang lainnya.

Waldjinah mendapat penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2015, kategori penyanyi Solo Pria/Wanita Duo/Grup Keroncong/Langgam/Stambul Terbaik lewat lagu “Ayo Ngguyu“.  Lagu “Ayo Ngguyu” merupakan bagian dari album kompilasi Waldjinah, ia menyanyikan bersama dengan Nuning dan Asty Dewi. Lagu ini direkam pada tahun 2013, di bawah label Gita Nada Pertiwi.  Dua tahun sebelumnya, Waldjinah meraih penghargaan untuk kategori Lifetime Achievement Awards AMI Award 2013.

Waldjinah yang membawakan Ayo Ngguyu berhasil menyisihkan pesaingnya yaitu Dian Mita membawakan lagu “Nuansa Kebangsaan“, Mamiek Prasitoresmi dengan lagu “Keroncong Irama Malam“, Tetty Supangat membawakan “Gambang Semarang” dan Tuti Maryati dengan lagu “Keroncong Hanya Satu“.

Atas berbagai prestasi dan ketekunannya di dunia keroncong, Waldjinah mendapat julukan sebagai “Ratu Keroncong”. Julukan ini disematkan setelah dirinya menjadi jawara dalam kontes menyanyi bertitel “Ratu Kembang Katjang” pada tahun 1958.

Bagaimana kisah Waldjinah dalam meniti karir sebagai penyanyi keroncong sejak kecil hingga menjadi penyanyi legendaris? Inilah kisah Waldjinah yang moncer sejak melantunkan lagu Walang Kekek ,.

Sejak di bangku SD

Sejak masih duduk di Sekolah Dasar (SD), Waldjinah sudah tertarik di dunia seni tarik suara. Pada masa itu, sekolah sering mengadakan berbagai lomba. Wanita kelahiran Surakarta, 7 November 1945 ini, tak ingin berpangku tangan, Waldjinah kecil termasuk rajin mengikuti berbagai lomba.  Ia pun  sering mengikuti lomba menyanyi antar kelas. Suaranya yang  khas dan merdu membuatnya bisa menang di setiap perlombaan.

“Saat menang, saya senang dan bangga luar biasa. Sulit untuk digambarkan bagaimana bangganya saya atas prestasi itu,” kata Waldjinah.

Ternyata, sebagai jawara kelas tersebut dapat dijadikan modal awal Waldjinah dalam meniti prestasi berikutnya, khususnya dalam hal seni vokal.  (bersambung)

COSMAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *